Kamis, 10 Desember 2015

Masih Tentang Dirimu


Ini tidak pernah semudah yang aku bayangkan.
Tiga bulan tanpamu rasanya masih seneraka ketika pertama kali kamu bilang ingin mengakhiri hubungan ini. Hingga detik ini aku masih belum bisa menerima kepergianmu yang bisa ku pastikan karna kesalahanku, keegoisanku dan sifat kekanak-kanakanku..
Yang masih bisa ku lakukan saat ini hanyalah berdoa, berharap semua penantianku segera berakhir dan aku bisa menjalani hidupku senormal dulu.

Aku masih rajin memeriksa ponselku, berharap masih ada sisa perhatianmu untukku, berharap kamu menyapaku dan menghubungiku lebih dulu. Nyatanya, hanya anganku saja yang menetap, kamu tidak mengabariku, dan aku sudah bisa menebak bahwa mungkin saat ini kamu tidak merasakan yang aku rasakan.

Tiga bulan ini, aku masih merasa semua berantakan dan kalut. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana hidupku, yang jelas aku remuk. Aku disini seperti orang yang kehilangan arah dan tak tahu ingin melangkah kemana. Kamu terlanjur mengajakku melangkah terlalu jauh hingga aku lupa cara untuk berbalik ke arah yang seharusnya sejak dulu aku tuju, dan tak perlu mengikutimu.

Aku tak tahu apa daya tangisku, hingga apapun yang aku lihat dan aku rasa selalu tertuju padamu. Saat melewati tempat kerjamu, rasanya ingin sekali aku menghampirimu, namun apalah dayaku, aku hanya bisa melihatmu dan memperhatikanmu dari kejauhan, aku selalu memikirkanmu dimanapun kamu berada, entah sedang melakukan apa. Tapi, ku rasa hidupmu sekarang pasti tak seburuk dan seberantakan hidupku yang sekarang. Aku tahu kamu tentu dengan mudah bisa melupakanku, tapi tidak dengan rasa sakit hatimu padaku. Bahkan ku rasa kamu bisa kembali normal menjalankan hidupmu, dan kamu pasti tak merasa kehilangan apapun, aku fikir saat ini kamu bahagia lepas dariku.

Siang tadi, aku menghabiskan waktu sendirian di warung dekat gang rumahmu. Pancoran. Tempat yang jarang ku sambangi, tapi tak pernah menjadi asing. Bahkan untuk kesini saja aku hanya bermodalkan nekat dan plang jalanan, seperti yang ku lakukan dua bulan lalu.
Sampai di daerah yang sangat-sangat tidak asing bagiku, hampir satu tahun lebih aku melewati jalan yang sama, KEMBANGAN. Inilah tempat kerjaku, dan tempat pertamaku mengenalmu. Ku lewati jalanan ini secara perlahan mengendarai sepeda motor putihku yang ku beri nama “chupy”, aku meng-gas nya perlahan, sambil ku menahan airmataku mengingat akan kenangan yang tersisa di tempat ini. Aku hanya terfokus dan menatap jalanan yang sering kita lewati.

Tiba-tiba aku benci seluruh sudut kota ini, jalanan masih begitu macet. Dulu, kita menunggu kemacetan usai sambil bercanda dan bernyanyi, kamu gunakan lelucon konyolmu dan itu membuatku tertawa geli lalu memelukmu. Aku benci semua lampu merah yang aku lewati, aku jadi ingat setiap detik saat menunggu lampu hijau, aku memelukmu dan menyenderkan kepalaku di bahumu, dan kamu memegangi tanganku dengan lembut. Aku benci apapun tentang kota ini, aku benci setiap sudut jalan yang selalu membuatku mengingatmu. Aku sebenarnya heran dengan diriku sendiri, aku duduk mengendarai sepeda motorku seorang diri, bukan di sepeda motormu yang ku tahu bernama “cupuy”, aku kangen memelukmu dari belakang menaiki si cupuy, ditengah macetnya kota dan dinginnya angin malam, melewati flyover dan kamu selalu bilang I LOVE YOU. Rasanya semua berbeda dan aneh, aku mengendarai motor sendirian tanpa memeluk siapapun, tanpa ada yang mengajakku ngobrol dan bernyanyi bersama, ketawa bersama, aku harus terbiasa dengan seluruh keanehan ini, dengan hal-hal yang harus aku lewati tanpamu.

Polisi tidur di gang rumahku ku lewati dengan mulus, padahal  dulu ketika masih bersamamu, aku harus memelukmu erat agar tidak membuat si cupuy berguncang hebat. Kenangan sederhana yang belum aku lupakan, setiap inci tentangmu selalu penting di mataku. Sesampainya dirumah, aku membuka gerbang dan memasuki motorku. Ah, padahal beberapa bulan lalu, aku masih ingat kamu menyisakan sedikit saja waktu untuk sekedar mencium kening dan pipiku, mencuri pelukan, dan tak lupa aku selalu mencium punggung tanganmu, lalu kamu pamit pulang. Aku pun tak langsung masuk rumah, aku menatapmu yang pergi, membiarkan punggungmu menghilang dari pandanganku dan baru aku tenang memasuki rumah. Aku rindu hal-hal sederhana itu, yang mungkin tak penting bagimu, tapi sungguh melekat bagiku.

Sudah beberapa minggu ini aku tidak berkomunikasi denganmu, dan aku tidak lagi menganggumu. Sejujurnya aku merindukanmu, ingin sekali aku bertemu denganmu lagi, meskipun hanya sesaat. Sekarang, aku merasa seperti orang bodoh yang masih menatap ponselku, padahal aku tahu kamu tak akan pernah menghubungiku. Aku masih sering menunggu di depan rumah, berharap bisa melihat sepeda motormu dengan sticker GRNDFLR di belakang motormu, dan sticker tulisan jepang di dekat lampu send sebelah kanan motormu, aku masih sering tiba-tiba membuka kembali pintu gerbang seusai ku memasukan motorku, berharap masih bisa menyaksikan punggungmu yang pergi menjauh, menatap sepeda motormu yang meninggalkan rumahku, untuk terakhir kalinya.

Dari sosok yang mungkin hanya kamu anggap sebagai masa lalu yang menyakitkan, yang kau fikir tidak pernah mampu berubah dan membahagiakanmu. Padahal aku mati-matian memperjuangkan cintaku dan menyesali semua hanya untuk mendapatkan sekali lagi saja KESEMPATAN darimu, kesempatan yang terakhir kalinya. Tapi tidak pernah terjadi :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar